Thursday, 16 October 2014

8 DOSA LISAN YANG HARUS DIWASPADAI/DIHINDARI


Lisan merupakan karunia yang sangat 'mahal' dan vital bagi manusia. Tanpa lisan, barangkali hidup bagi manusia tiada artinya. Dengan lisan, manusia dapat mengenal rasa dan dapat berbicara dengan sesama. Dengan lisan pula manusia dapat berkomunikasi tanpa mengalami kesusahan.
Selain itu, manusia bisa juga mulia dengan lisannya tersebut. Begitupun sebaliknya, manusia bisa hina karena lisannya. Hina, karena tidak bisa menggunakannya sesuai kehendak dan aturan-aturan yang ditetapkan penciptanya.
Banyak sekali hadits Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam. yang menganjurkan kita untuk selalu menjaga lisan. Bahkan Rasulullah juga sering mengecam orang yang tidak pandai menjaga lisannya.
Rasulullah pernah berpesan: ”Barangsiapa yang diam (tidak banyak bicara) maka dia akan selamat” (H.R. At-Tarmizi)
Dalam hadits lain disebutkan, Al-Ma’shum Shallallaahu ‘alaihi wasallam juga pernah berwasiat: “Barang siapa yang bisa menjamin (keselamatan)antara dua rahangnya (lisan) dan duaka kinya (faraj) maka aku menjamin baginya surga” (H.R. Bukhari).
Lisan ibarat pisau bermata dua, bila digunakan pada hal-hal yang baik maka akan mendatangkan kemaslahatan(kebaikan). Namun sebaliknya, bila digunakan pada hal-hal yang buruk, kemudhratan pun akan mengiringinya. Tidak hanya penyakit hati yang dapat menjangkit pada manusia, namun penyakit lisan pun dapat menjangkit pada manusia.
Berikut diantaranya penyakit lisan yang harus dihindari:
1. Pembicaraan yang tidak Bermanfaat.
Rasulullah SAW bersabda: “Salah satu tanda kesempurnaan Islam seseorang adalah meninggalkan yang tidak bermanfaat baginya”. (H.R. At-Tarmizi)
Yang dimaksud dengan “tidak bermanfaat” dalam hadits tersebut antara lain, muncul melalui lisan seperti ghibah, fitnah, menggunjing, berbohong dll. Padahal, pembicaraan yang tidak berarti sama sekali hanya membuang-buang waktu, dan kelak akan dimintai pertanggung jawabannya di hadapan Allah Subhanallaahu wata’ala. Banyak orang yang tidak mengetahui batasan-batasan perkataan yang bermanfaat ataupun tidak bermanfaat, sehingga mengakibatkan kebiasaan baginya. Pada akhirnya nanti, kebiasaan yang tidak diketahui baik-buruknya itu sulit untuk merubahnya. Secara singkat mungkin bisa kitakatakan bahwa batasan baik atauburuknya perkataan seorang adalah diamnya, tidak mengakibatkan celakabagi orang lain dan tidak mengakibatkan rugi terhadap dirinya sendiri.
2. Perdebatan dan Pertengkaran.
Perdebatan dan pertengkaran acapkali berbuntut pada perpecahan. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam. melarang umatnya yang suka perdebatan seraya bertutur: “Tidaklah sesat suatu kaum (dahulu) setelah Allah menunjuki mereka, kecuali karena mereka suka berdebat atau bertengkar” (HR. At-Tarmizi)
Dalam sabdanya yang lain, yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:
Rasulullah SAW bersabda: “Tidak sempurna iman seorang hamba hingga dia meninggalkan pertikaian danperdebatan walaupun dia dalam posisi benar” (H.R. Ibnu Abi ad-Dunya).
3. Suka Melaknat.
Marah sering kali membawa seseorang lupa diri, sehingga kata-kata yang terucap dari kedua bibirnya mengakibatkan tidak terkendali.
4. Bercanda yang Berlebihan.
Sejatinya canda itu lebih identik dilarang oleh Rasulullah Shallallaahu‘alaihi wasallam. kecuali pada hal-hal yang sewajarnya.
Rasulullah SAW bersabda: “Jangan kamu mendebat saudaramu dan jangan kamu mencandainya” (H.R. At-Tarmizi)
Artinya, canda terhadap sesama selama dalam batas-batas yang wajar tidaklah dilarang. Akan tetapi, yang sering terjadi ketika canda sudah melebihi batas, sehingga aib sesama tidak jarang terbongkar gara-gara canda yang berlebihan. Imbasnya, berbuntut pada putusnya hubungan silaturahmi bahkan teman bisa menjadi lawan hanya karena canda yang berlebihan.
5. Mengejek dan Mencemoohkan orang lain.
Allah Subhanallaahu wa ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi orang (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain, karena boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan). (Q.S. Al-Hujurat: 11).
6.Ghibah (gosip).
Secara singkat, ghibah (gosip) bisa diartikan dengan menyebut atau menceritakan hal yang tidak baik dari pribadi seseorang. Sehingga, jika yang diceritakan mengetahuinya akan mnimbulkan permusuhan diantara keduanya. Biasanya, sesorang yang suka mengghibah tidak akan tenang jika melihat orang bahagia, senang dan gembira.
7.Namimah (mengadu domba)
Berbeda dengan namimah (adu domba), ghibah lebih kepada ingin melaga antara dua orang yang awalnya bersahabat akhirnya bermusuhan. Adudomba tidak saja dari perkataan, namun bisa juga dengan isyarat atau surat dsb.
Sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Tidakkah kamu ingin aku beritahukan orang yang paling jahat diantara kamu? Kata sahabat: “tentu wahai Rasulullah” kemudian Nabi SAW menyebutkan adu domba salah satunya.” (HR. Ahmad dari Abu Malikal-Asy’ari)
8.Memuji berlebihan Adalah sifat manusia ingin selalu dipuji. Namun, terkadang yang memuji terlalu berlebihan sehingga sampai pada batas dusta. Pernah seorang sahabat memuji sahabat yang lain(dengan berlebihan), lalu Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam mendengarnya seraya berkata; ”Celakalah engkau, karena engkau (seolah-olah) telah memotong leher saudaramu, sekalipun dia senang mendengar apa yang kau ceritakan.”
Subhanallah..
Jika lisan adalah dua mata pisau, maka pergunakanlah lisan dengan sebaik-baiknya jangan sampai ada hati yang tersayat oleh ucapan kita, jangan sampai ada hati yang terluka karena perkataan kita.
Bismillahir rahmanir rahim
"Allahumma sholli`ala Muhammad wa`ala alih Muhammad"
Ya Allah..
Kemi mohom kepada-Mu, jauhkanlah kami jauhkanlah kami dari ucapan/lisan yang Engkau Murkhai yang akan mengakibatkan dosa bagi kami, Mudahkanlah kami dalam menjaga lisan kami dari perkataan yang buruk dan Jadikanlah lisan kami senantiasa bermanfaat bagi diri kami dan juga bermanfaat bagi sesama.
~ Aamiin Ya Robbal`Alamiin ~
#copy/paste

No comments:

Post a Comment